Friday, November 30, 2007

SIKAP IDEAL SEORANG PEMIMPIN

(foto dari www.epekak.net.my)

Menjadi seorang pemimpin adalah dambaan dan cita-cita setiap orang. Seandainya didunia ini tidak ada orang yang ingin atau bercita-cita menjadi seorang pemimpin maka dapat diperkirakan dunia ini akan kacau balau, karena masing-masing orang hidup dengan aturan yang dibuatnya sendiri. Kita bisa membayangkan dunia yang tanpa ada pemimpin ini tentu masing-masing orang bisa berkehendak dan berbuat sesukanya tanpa harus ada rambu-rambu yang mengikatnya. Oleh sebab itu sangatlah wajar dalam hidup ini seorang pemimpin mutlak harus ada.

Dalam kehidupan ini para pemimpin banyak yang kita temui, dari yang sifatnya yang resmi sampai tidak resmi, dari yang lokal sampai internasional, dari yang rendah sampai yang tinggi, dari yang amatir sampai yang Profesional, dari yang diakui sampai yang tidak diakui. Mereka para pemimpin ini bisa kita temui dikantor, dipabrik, dipemerintahan, disekolah, dikampus, dipasar, ditempat ibadah, disetiap kegiatan, diorganisasi, dll. Profesi pemimpin itu sendiri memiliki jangka tertentu ini ada yang menjalaninya secara singkat, ada yang lama, tergantung dari kondisi yang ia alami.

Pada kehidupan sehari-hari itu sendiri pemimpin bisa dibagi dengan berbagai tipe. Diantara sekian tipe yang sering kita temui adalah seperti tipe demokratis, ada yang otoriter, ada yang dinamis, ada yang tertutup, ada yang terbuka, ada yang urakan, dll. Dari sekian banyak tipe yang kita ketahui setiap tipe pemimpin masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Kenapa dikatakan memiliki kelemahan dan kelebihan?, karena diantara tipe-tipe itu boleh jadi bila ditetapkan ditempat atau masyarakat yang berlainan hasilnya bervariasi, boleh hasilnya bisa cocok bisa tidak. Hal seperti ini sepertinya sangat wajar mengingat masing-masing tempat dan masyarakat berbeda secara kondisi dan karakter. Oleh sebab itu dengan adanya kondisi seperti ini bisa jadi seorang pemimpin bisa gagal dan bisa sukses dalam menjalankan perannya. Bila berhasil tentu ia akan dikenang sebagai pemimpin yang cerdas dan berbakat, namun bila ia gagal hancurlah hidupnya.

Kegagalan beberapa orang pemimpin dalam menjalankan konsep-konsep kepemimpinannya seringkali disebabkan mereka sering melupakan faktor-faktor kondisi psikologis tempat dan masyarakat. Seringkali seorang pemimpin itu tidak bisa menempatkan dirinya secara baik terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Banyak dari pemimpin tersebut kadang-kadang tidak menyadari bahwa dirinya seorang pemimpin : misalnya banyak para pemimpin kita tidak bisa membedakan mana kepentingan pribadi mana kepentingan umum. Kadang seorang pemimpin yang harusnya bisa menjaga sikap justru sering menjadikan dirinya contoh yang buruk. Banyak dari pemimpin tersebut yang harusnya menjadi panutan justru dibenci oleh para bawahannya. Diantara hal yang dibenci itu misalnya tidak sesuainya antara apa yang dibicarakannya dengan kenyataan yang ada. Seringkali yang ada pemimpin itu justru selalu menciptakan masalah. Dengan kehadirannya banyak kondisi yang tadinya kondusif menjadi tidak kondusif, contoh kasus misalnya: Pada suatu perusahaan besar, ada seorang manager yang tidak puas dengan kinerja bawahannya, namuin anehnya simanager tidak pernah menegur sibawahan tersebut, yang terjadi justru si manager menceritakan kelemahan bawahannya kepada rekan-rekan bawahan tersebut. Parahnya lagi sikap seperti ini sering ia lakukan pada forum-forum yang tidak resmi, padahal dalam forum resmi saja apalagi dalam dunia kerja untuk menceritakan kelemahan seseorang sangatlah tidak beretika dan berakhlak. Dengan sikap simanager tersebut , terlihat sekali bahwa ia tidak bisa dijadikan contoh sebagai pemimpin yang baik. Sikap pemimpin seperti dapat dinilai dengan nol besar. Seharusnya jika tidak puas dengan kinerja bawahannya, ia bisa memanggilnya, selanjutnya ia bisa menegur dan memberikan pembinaan kepersonaliaan agar sibawahan tersebut SDMnya dapat meningkat. Dengan kasus seperti ini Si manager telah melupakan beberapa hal. Pertama si manager tidak pernah berfikir panjang akibat prilakunya ini. Kedua seandainya sibawahan tersebut mengetahui perbuatan si manager bukankah justru ini akan menciptakan masalah baru yaitu sibawahan makin merasa tidak nyaman karena dirinya sebagai manusia sama sekali tidak dihargai.Ketiga, si manager yang harusnya menutupi kelemahan anak buahnya pada orang lain justru ia malah mengobralnya tanpa pandang bulu. Keempat Si manager yang harusnya melindungi anak buahnya justru malah mencelakannya. Kelima simanager yang harusnya menjadi pengayom justru menjadi perusuh. Keenam dengan adanya prilaku si manager tersebut bukan tidak mungkin rekan-rekan sibawahan tersebut akan memandang ”lain” terhadap image si bawahan tersebut.

Belajar dari kasus diatas, ternyata menjadi seorang pemimpin memang tidak mudah. Ada hal-hal yang memang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin seharusnya tidak hanya pandai dibidang administrasi saja, atau organisasi saja, atau keuangan saja. Seorang pemimpin juga harus mempunyai sikap yang terhormat dalam menjaga prilakunya, terutama prilaku mulutnya, kenapa mulut? Karena mulut inilah yang paling sulit untuk dikontrol kearah yang lebih bermartabat. Sejarah mencatat para pemimpin yang tidak bisa menjaga mulutnya dengan baik, cepat atau lambat ia akan jatuh.

Semoga dengan tulisan yang sederhana ini bagi orang yang merasa dirinya pemimpin mudah-mudahan mampu bertindak dan berprilaku layaknya seorang pemimpin sejati.

No comments: